Go to content Go to navigation Go to search

NU Pasca Gus Dur

Kepemimpinan dalam tubuh NU adalah faktor penting yang dapat menentukan hitam-putihnya organisasi yang didirikan pada 1926 ini. Reputasi NU di tingkat nasional dan internasional sangat bergantung kepada siapa yang menakodai organisasi ini. Pada zaman Soekarno dulu, NU dikenal sangat dekat dengan kekuasaan karena para tokohnya, khususnya Idham Chalid dan KH Saifuddin Zuhri, dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Bung Karno.

Source: Jurnal Nasional, 08/01/2010

25/05/10 05:23 PM

Mencari Pengganti Gus Dur

Ketika Partai NU keluar sebagai pemenang ketiga pada Pemilu 1955, mereka kesulitan mencari orang yang bisa dikirim ke Parlemen. Untuk mengatasai krisis ini, mereka lalu merekrut beberapa tokoh dari luar seperti Prof Sunarjo (ekonom), Asrul Sani (sutradara), Usmar Ismail (seniman), dan dua orang keturunan Tionghoa Tan Kiem Liong dan Tan Eng Hong (pengusaha) untuk bergabung ke NU. Saat itu, mencari orang pandai di NU benar-benar seperti mencari tukang es pada jam 1 malam.

Source: Islamlib.com, 11/01/2010

24/05/10 05:20 PM

A Counter-Movement to Political Islam

The organization’s stated goal is to encourage dialogue among Islamic groups with a liberal understanding of Islam and to create a journalistic platform for analysis, background reports and interviews. “We also conduct workshops, public discussions and radio talk shows to discuss the current challenges for Muslim society following the end of the Suharto era,” explains Luthfi Assyaukanie, coordinator of Jaringan Islam Liberal. The Islamic scholar and lecturer at the Paramadina University in Jakarta knows exactly what he is talking about when he emphasizes the significance of his organization’s educational and publicity work: “We are now living in a democratic society. However, if we do not enrich it with our views, the radicals will try to fill this gap. We see ourselves as a reply to the rising Islamism in Indonesia.”

Source: Qantara, May 2008

23/05/10 12:41 AM

Sandiwara Mengecam Terorisme?

(Pretending to Condemn Terrorism)

Ada yang luput dari perhatian kita di tengah gencarnya berita tentang terorisme akhir-akhir ini. Beberapa hari lalu (4/12), sekelompok organisasi Islam “garis keras” mengadakan pertemuan yang menurut saya cukup penting, khususnya karena mereka mendiskusikan tema yang sangat relevan, yakni tentang konsep jihad.

Source: Jawa Pos, 28 December 2005

21/05/10 04:37 PM

Orientalis Terbalik

(Orientalist in Reverse)

Kecenderungan orientalisme terbalik akhir-akhir ini tampak semakin menggejala pada para aktivis dan pemimpin Islam di Tanah Air. Seorang aktivis Islam yang berafiliasi kepada sebuah lembaga dakwah nasional mengatakan bahwa pluralisme bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang jelas-jelas bersikap tegas dan keras terhadap kaum non-Muslim. Sang aktivis tersebut mengkritik para pendukung gagasan pluralisme Islam seraya mengatakan bahwa gagasan pluralisme hanya akan membuat Islam semakin lemah.

Source: Tempo, 4 August 2002

20/05/10 06:00 AM